Sejarah Seni Rupa Indonesia

Di posting oleh Denis Nurdiana pada 06:53 AM, 31-Jan-13

  1. Pengertian Seni Rupa

Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkapmata dan dirasakandengan rabaan.

 

  1. B.     Seni Rupa Tradisional Indonesia

Perkembangan seni rupa tradisional Indonesia sudah dimulai sejak zaman prasejarah. Meskipun tidak ada orang yang tahu secara pasti kapan dimulainya zaman prasejarah. Periodesasi zaman

prasejarah di Indonesia di bagi menjadi beberapa periode di antaranya : zaman batu dan zamanlogam. Kedua zaman prasejarah ini, sama-sama memiliki karya seni rupa ( tradisional ) hal itu dapatdi buktikan dengan adanya peninggalan-peninggalan yg berupa karya seni rupa yg bersipattradisional seperti kapak genggam, gelang, kalung, tembikar bahkan ada lukisan.

Khusus mengenai lukisan tersebut, pertama kali di temukan di gua leang-leang sulawesi dan lukisantersebut berupa penjiplakan telapak tangan pada dinding gua. Selain lukisan telaapak tangan,jugaterdapat gambar binatang berupa gambar babi yang sedang meloncat dengan kondisi leher terluka.

 

  1. 1.     Seni Rupa Prasejarah (jaman Batu)

 

Jauh sebelum dimulai perhitungan tahun masehi, dibeberapa tempat di daerah timur sudah memperlihatkan suatu kebudayaan yang bermutu tinggi. Dan sangat berpengaruh baik di timur maupun di daerah barat. Kesenian timur pada awal perkembangannya berpusat di Mesir, Mesopotamia dan India (lembah sungai Indus). Ketiga daerah ini menampilkan bentuk seni yang memiliki ciri khas masing – masing sesuai dengan kepercayaan, pandangan hidup dan tradisinya.

   Secara historis, seni rupa sangat terkait dengan gambar. Peninggalan-peninggalan prasejarah memperlihatkan bahwa sejak ribuan tahun yang lalu, nenek moyang manusia telah mulai membuat gambar pada dinding-dinding gua untuk mencitrakan bagian-bagian penting dari kehidupan. Sebuah lukisan atau gambar bisa dibuat hanya dengan menggunakan materi yang sederhana seperti arang, kapur, atau bahan lainnya. Salah satu teknik terkenal gambar prasejarah yang dilakukan orang-orang gua adalah dengan menempelkan tangan di dinding gua, lalu menyemburnya dengan kunyahan dedaunan atau batu mineral berwarna. Hasilnya adalah jiplakan tangan berwana-warni di dinding-dinding gua yang masih bisa dilihat hingga saat ini. Kemudahan ini memungkinkan gambar (dan selanjutnya lukisan) untuk berkembang lebih cepat daripada cabang seni rupa lain seperti seni patung dan seni keramik.

Objek yang sering muncul dalam karya-karya purbakala adalah manusia, binatang, dan objek-objek alam lain seperti pohon, bukit, gunung, sungai, dan laut. Bentuk dari objek yang digambar tidak selalu serupa dengan aslinya. Ini disebut citra dan itu sangat dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis terhadap objeknya. Misalnya, gambar seekor banteng dibuat dengan proporsi tanduk yang luar biasa besar dibandingkan dengan ukuran tanduk asli. Pencitraan ini dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis yang menganggap tanduk adalah bagian paling mengesankan dari seekor banteng. Karena itu, citra mengenai satu macam objek menjadi berbeda-beda tergantung dari pemahaman budaya masyarakat di daerahnya.

Pada satu titik, ada orang-orang tertentu dalam satu kelompok masyarakat prasejarah yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggambar daripada mencari makanan. Mereka mulai mahir membuat gambar dan mulai menemukan bahwa bentuk dan susunan rupa tertentu, bila diatur sedemikian rupa, akan nampak lebih menarik untuk dilihat daripada biasanya. Mereka mulai menemukan semacam cita-rasa keindahan dalam kegiatannya dan terus melakukan hal itu sehingga mereka menjadi semakin ahli. Mereka adalah seniman-seniman yang pertama di muka bumi dan pada saat itulah kegiatan menggambar dan melukis mulai condong menjadi kegiatan seni.

Dalam dunia seni, seni rupa terbukti berdaya guna dan bertepat guna sebagai salah satu sarana kreatifitas dan sarana komunikasi. Dalam kaitan inilah seni rupa prasejarah Indonesia  harus dipelajari. Judul makalah ini sengaja dipilih karena menarik perhatian penulis untuk dicermati dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang peduli terhadap seni rupa prasejarah Indonesia.

 

Seni Rupa Prasejarah Indonesia

Zaman prasejarah (Prehistory) adalah jaman sebelum ditemukan sumber – sumber atau dokumen – dokumen tertulis mengenai kehidupan manusia. Latar belakang kebudayaannya berasal dari kebudayaan Indonesia yang disebarkan oleh bangsa Melayu Tua dan Melayu Muda. Agama asli pada waktu itu animisme dan dinamisme yang melahirkan bentuk kesenian sebagai media upacara (bersifat simbolisme). Zaman prasejarah Indonesia terbagi atas zaman Batu dan zaman Logam.

 

 Seni Rupa Jaman Batu

Jaman batu terbagi lagi menjadi: jaman batu tua (Palaeolithikum), jaman batu menengah (Mesolithikum), Jaman batu muda (Neolithikum), kemudian berkembang kesenian dari batu di jaman logam disebut jaman megalithikum (Batu Besar)

Peninggalan – peninggalannya yaitu:

 

a. Seni Bangunan

Manusia phaleolithikum belum meiliki tempat tinggal tetap, mereka hidup mengembara (nomaden) dan berburu atau mengumpulkan makanan (food gathering) tanda – tanda adanya karya seni rupa dimulai dari jaman Mesolithikum. Mereka sudah memiliki tempat tinggal di goa – goa. Seperti goa yang ditemukan di di Sulawesi Selatan dan Irian Jaya. Juga berupa rumah – rumah panggung di tepi pantai, dengan bukti – bukti seperti yang ditemukan di pantai Sumatera Timur berupa bukit – bukit kerang (Klokkenmodinger) sebagai sisa – sisa sampah dapur para nelayan

Kemudian jaman Neolithikum, manusia sudah bisa bercocok tanah dan berternak (food producting) serta bertempat tinggal tinggal di rumah – rumah kayu. Pada jaman megalithikum banyak menghasilkan bangunan – bangunan dari batu yang berukuran besar untuk keperluan upacara agama, seperti punden, dolmen, sarkofaq, meja batu dll.

 

 

b. Seni Patung

Seni patung berkembang pada jaman Neolithikum, berupa patung – patung nenek moyang dan patung penolak bala, bergaya non realistis, terbuat dari kayu atau batu. Kemudian jaman megalithikum banyak itemukan patung – patung berukuran besar bergaya statis monumental dan dinamis piktural

c. Seni Lukis

Dari jaman Mesolithikum ditemukan lukisan – lukisan yang dibuat pada dinding gua seperti lukisan goa di Sulawesi Selatan dan Pantai Selatan Irian Jaya. Tujuan lukisan untuk keperluan magis dan ritual, seperti adegang perburuan binatang lambang nenek moyang dan cap jari. Kemudian pada jaman neolithikum dan megalithikum, lukisan diterapkan pada bangunan – bangunan dan benda – benda kerajinan sebagai hiasan ornamentik (motif geometris atau motif perlambang).

Seni Rupa Jaman Batu

Jaman logam di Indonesia dikenal sebagai jaman perunggu, Karena banyak ditemukan benda – benda kerajinan dari bahan perunggu seperti ganderang, kapak, bejana, patung dan perhiasan, karya seni tersebut dibuat dengan teknik mengecor (mencetak) yang dikenal dengan 2 teknik mencetak:

1) Bivalve, ialah teknik mengecor yang bisaa di ualng berulang.

2) Acire Perdue, ialah teknim mengecor yang hany satu kali pakai (tidak bisa diulang).

 

B. Corak Peninggalan Seni Rupa Prasejarah Indonesia

Secara umum Soedarso Sp. Menyatakan ada tiga corak seni rupa prasejarah Indonesia:

a. Corak Monumental

Terutama pada corak neolithicum, karya seni rupanya bercirikan:

•      Tokoh nenek moyang diujudkan dalam bentuk tiga dimensional secara frontal

•      Motif simbolik; kedok, pohon hayat, tanduk kerbau

•      Irama garis bersudut-sudut, sederhana, kaku sehingga menimbulka kesan monumental

 

b. Corak Dongson

•      Pengaruh dari daerah Tonkin China

•      Dekoratif

•      Kurang Simbolik

•      Motif Hias: tumpal, spiral terdapat pada moko dan nekara

c. Corak Chow Akhir

•      Tidak Simetris

•      Garis irama (melengkung-lengkung memenuhi semua permukaan)

•      Hanya terdapat di Kalimantan

 

C. Jenis Peninggalan Seni Rupa Prasejarah Indonesia 

a. Seni Lukis  

Seni lukis adalah suatu pengucapan artistic yang ditumpahkan dalam bidang dua dimensional dengan menggunakan garis dan warna.

Nenek moyang melukis pada dinding goa dimana mereka tinggal. Contoh di gua leang-leang, lukisan cap-cap tangan diperkirakan berumur 4.000 tahun. ada tradisi purba masyarakat setempat yang menyebutkan, gambar tangan dengan jari lengkap bermakna sebagai penolak bala, sementara tangan dengan empat jari saja berarti ungkapan berdukacita. Gambar itu dibuat dengan cara menempelkan tangan ke dinding gua, lalu disemprotkan dengan cairan berwarna merah.

 

               Selain itu ada lukisan babi hutan yang sedang diujudkan dengan garis-garis merah, terdapat bekas tonjokan benda tajam di lehernya. Motif yang lain adalah gajah, ular dan kerbau(tetonisme).  Hal ini dianggap oleh nenek moyang kita dapat menimbulkan kekuatan

magis(dynamisme).

Karena kepercayaan yang variatif, maka timbulah:

Animisme

• (pemujaan batu/gunung sebagai simbol roh nenek moyang)

Dynamisme

• (kekuatan benda (lukisan/patung ) dan tumbuhan tertentu dianggap mempunyai kekuatan gaib)

Totemisme

• (binatang dianggap masih erat hubungannya dengan bangsa tertentu)

Manisme

• (arwah nenek moyang yang dipuja dengan upacara tertentu)

Contoh: selamatan atau kenduri dengan saji-sajian tertentu.

 

b. Seni Hias  

Seni hias dimaksudkan untuk menambah keidahan dari karya yang diciptakan. Dari kegunaannya seni hias dibedakan menjadi:

• Hiasan Pasif, berfungsi hanya untuk menambah keindahan saja, contoh hiasan tempel dinding.

• Hiasan aktif, sebagai penambah kekuatan suatu bangunan (benda yang dihiasi) serta menambah keindahannya. Contoh tiang figure wanita.

• Hiasan Simbolis, sebagai lambing dan menambah keindahan. Contoh swastika dan bulan bintang

• Hiasan mekanis, disamping menambah keindahan juga mengandung ilmu pesawat atau ilmu alam. Contoh pangkal petir bentuk naga.

Pada zaman prasejarah seni hias banyak digunakan pada perabot rumah tangga, jimat dan sebagai alat upacara adat. Motif-motifnya diyakini mempunyai kekuatan magis. Pola hias geometris (garis, titik, bidang ke ilmu ukuran) adalah pola yang paling banyak digunakan. Pola yang lain adalah tumpal, meader, pilin berganda, swastika, pola-pola ini dinggap mengandung arti social, religious dan geografis. Pola hias lain aalah polygon, animal, vegetal, dan vigural.

 

  c. Seni Kriya  

1. Gerabah

Banyak ditemukan pada zaman neolithicum. Pembuatan gerabah masih sederhana dengan pola hiasan anyaman, toheran, garis-garis sejajar dan lingkaran. Perkembangan selanjutnya, masa perundagian, pola hias berkembang dari lingkaran memusat menjadi titik dan lengkungan, pola anyaman, tumpal dan tangga maupun meader.

2. Benda Perunggu

Zaman perunggu berlangsung kurang lebih 500 tahun SM. Teknik pembuatannya adalah a cire perdue (cetak hilang, hanya sesekali untuk mencetak). Contoh di Bali ditemukan cetak nekara dari batu. Yang dicetak dengan cetakan batu adalah nekara lilin, sedangkan nekara perunggunya dicetak dengan a cire perdue. Di jaman sekarang orang membuat cetakan yang dapat dipakai berkali-kali disebut bivalve (dua setangkup). Perunggu berasal dari campuran tembaga dengan timah putih yang membuat perunggu lebih tahan lama disbanding dengan besi. Contoh seni kriya logam perunggu:

• Kapak corong/ kapak sepatu

Kapak corong yang salah satu sisinya lebih panjang disebut candrasa.

• Nekara

Nekara adalah sejenis genderang perunggu tertutup bagian sisi atasnya, berpinggang tengah dan bertangkai. Nekara dianggap suci dan dipuja karena merupakan bagian bulan yang jatuh dari langit. Nekara yang ditemukan di Indonesia tidak semua berasal dari daratan Asia,tetapi ada pula yang berasal dari Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan penemuan cetakan nekara yang terbuat dari batu di desa Manuaba, Bali. Dan cetakan tersebut kini disimpan di dalam pure desa tersebut.

 

Seni Karya Lainnya

Seni kriya zaman perunggu diantarannya; gelang, biggel, anting-anting, kalung, cincin dan bejana.

• Seni Bangun Megalithicum

Kemunculan seni bangun pada masa itu dipengaruhi oleh adat pemujaan roh nenek moyang, maka agar dapat berkomunikasi dengan roh nenek moyang yang dipujanya dibuat lambang-lambang tertentu seperti gambar, patung, kedok, menhir, dolmen, sakofah, keranda, punden berundak, kubur batu dan manik-manik.

Contoh Seni Bangun Megalithicum

• Menhir                  

Adalah tugu atau tiang batu yang didirikan sebagai tanda peringatan dan melambangkan roh nenek moyang sehingga menjadi benda pujaan (animisme).

• Dolmen

Adalah meja batu berkaki menhir sebagai meja saji untuk memuja roh nenek moyang dan sebagai tanda makam.

• Sarkofah atau Keranda

Berbentuk seperti palung/lesung bertutup berfungsi untuk mengubur mayat(peti kubur).

• Punden berundak-undak

Bangunan pemujaan yang disusun bertingkat dengan menhir atau patung yang diletakkan diatas guna memuja roh nenek moyang.

• Seni Patung atau Arca

Di zaman megalithicum akhir  contohnya adalah batu gajah, Cirinya adalah dinamis. Sedangkan menhir, dolmen, sarkofah merupakan gaya yang lebih tua(gaya monumental).

Benda lain yang berfungsi sebagai kepentingan sehari-hari, misalnya kapak perimbas/chooper, kapak penetak/chopping tool, pahat genggam/hand exe, proto kapak genggam/prtoto hand axe yang dibuat menggunakan bahan baku kaseldon, yapsis, kersikan, batu endap dan batuan tufa.

Kapak-kapak zaman Mesolithikum disebut “hache courte” atau kapak pendek yang banyak ditemukan di kjokkenmoddinger Sumatra Timur. 

 

 

  1. 2.     Seni Rupa Hindu Budha

 

Dalam seni rupa contoh wujud akulturasinya dapat dilihat dari relief dinding candi (gambar timbul), gambar timbul pada candi tersebut banyak menggambarkan suatu kisah/ceritayang berhubungan dengan ajaran agama Hindu ataupun Budha.

relief dari candi Borobudur yang menggambarkan Budha sedang digoda oleh Mara yang menari-nari diiringi gendang, hal ini menunjukkan bahwa relief tersebut mengambil kisah dalam riwayat hidup Sang Budha seperti yang terdapat dalam kitab Lalitawistara.

Demikian pula di candi-candi Hindu, relief yang juga mengambil kisah yang terdapat dalam kepercayaan Hindu seperti kisah Ramayana. Yang digambarkan melalui relief candi Prambanan ataupun candi Panataran

Kesenian klasik merupakan puncak perkembangan kesenian tertentu, yang mana tidak dapat berkembang lagi (mandeg). Karya seni yang dianggap klasik memiliki kriteria sebagai berikut : (1) Kesenian yang telah mencapai puncak (tidak dapat berkembang lagi), (2) merupakan standarisasi dari zaman sebelum dan sesudahnya, dan (3) telah berusia lebih dari setengah abad. Selain dari ketentuan itu, suatu kesenian belum bisa dikategorikan seni klasik. Karya-karya seni klasik dapat dijumpai pada bangunan-bangunan kuno Nusantara pada zaman Hindu-Budha dan bangunan-bangunan kuno di Yunani dan Romawi.

Seni rupa pada masa Hindu-Budha berkembang pesat. Seni rupa pada zaman ini mendapat pengaruh kuat dari India. Setidaknya ada beberapa ciri dari seni rupa pada masa ini. Pertama adalah bersifat feodal, yaitu kesenian ini hanya berpusat di istana sebagai media pengabdian raja atau pengkultusan raja. Kedua, bersifat sakral yang artinya kesenian sebagai alat untuk upacara agama. Ketiga, bersifat konvensional, yaitu kesenian tersebut bertolak pada suatu pedoman pada sumber hukum dan agama.

Seni rupa dari masa ini terdapat dalam bangunan-bangunan seperti candi, patung-patung dewa atau raja, dan hiasan-hiasan, relief atau ornamen. Ciri bangunannya adalah atapnya yang meninggi seperti kerucut. Terlihat dari bangunan candi yang semakin ke atas bentuk bangunannya semakin mengerucut. Pola ini mencirikan bahwa semakin ke atas, tingkatan tertentu ditempati oleh sebagian kecil orang-orang suci. Konsep ini sesuai dengan kepercayaan agama Hindu-Budha yang mengenal konsep Moksa, dan Nirwana.

Menurut Onghokham, ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan kesenian. Pertama, ungkapan kesenian tradisional mempunyai hubungan yang erat dengan alam pikiran penduduk setempat mengenai soal-soal spiritual seperti magis, agama, mistik dan sebagainya. Kedua, seni sangat dipengaruhi oleh organisasi sosial atau politik dari masyarakat tersebut dalam berbagai versinya. Terakhir, pengaruh luar yang mempengaruhinya. Seni rupa dari masa Hindu-Budha pun tentunya mempengaruhi perkembangan seni rupa di Indonesia.

Pengaruh seni rupa masa Hindu-Budha terlihat pada masa sesudahnya, yatu masa Islam. Pada masa Islam, bangunan-bangunan ibadah merupakan bangunan yang banyak mengambil filosofi bangunan masa sebelumnya. Seperti mesjid Demak yang memiliki kubah yang arsitekturnya berundak. Konsep berundak ini terdapat seperti pada candi-candi. Juga makam-makam Islam. Dibuatnya nisan dan makam yang di atasnya didirikan bangunan (astana) merupakan konsep perupaan yang terpengaruh dari masa Hindu-Budha.

keseniannya tersebar jauh lebih luas daripada itu dan tetap bertahan hingga sekarang.

 

  1. 3.     Seni rupa Islam

Seni rupa islam adalah suatu bahasan yang khas dengan prinsip seni rupa yang memiliki kekhususan jika dibandingkan dengan seni rupa yang dikenal pada masa ini. Tetapi perannya sendiri cukup besar di dalam perkembangan seni rupa modern. Antara lain dalam pemunculan unsur kontemporer seperti abstraksi dan filsafat keindahan. Seni rupa Islam juga memunculkan inspirasi pengolahan kaligrafi menjadi motif hias.

Seni Islam bukanlah seni yang berfokus pada agama saja tetapi juga merangkumi kebudayaan Islam yang kaya dan berbagai macam. Ia seringnya menggunakan unsur sekular serta juga unsur yang tidak disukai oleh ahli teologi Islam, walau jika tidak diharamkan.[1]

Seni Islam berkembang daripada banyak sumber, dengan gaya-gaya seni Roma, seni Kristen awal, dan seni Romawi Timur diserap ke dalam seni dan seni bina Islam yang awal, khususnya seni Sassanid Persia pra-Islam. Gaya Asia Tengah juga diserap menerusi serangan mendadak oleh berbagai pengembara. Seni Cina juga merupakan salah satu pengaruh yang penting dalam lukisan, tembikar, dan tekstil Islam."[2]

Lukisan Islam mengandungi unsur-unsur berulang, misalnya penggunaan reka bentuk geometri berbunga-bunga atau bersayur-sayuran dalam gaya ulangan yang dikenali sebagai arabes. Arabes dalam lukisan Islam sering dipergunakan untuk melambangkan sifat Allah yang unggul, tidak terbahagi, dan tidak terbatas.[3] Kesilapan pengulangan dalam lukisan Islam mungkin disengajakan sebagai penampilan rendah hati oleh pelukisnya yang mempercayai bahawa hanya Allah dapat menghasilkan kesempurnaan. Walau bagaimanapun, teori ini telah dipertikaikan.[4][5][6]

Kebanyakan penganut Islam Sunni dan penganut Islam Syiah mempercayai bahawa penggambaran makhluk umumya adalah haram. Bagaimanapun, lukisan yang berkenaan manusia boleh didapati pada seluruh zaman seni Islam. Perlambangan manusia bagi tujuan penyembahan berhala diharamkan oleh hukum Islam yang dikenali sebagai Syariat. Meskipun begitu, terdapat banyak penggambaran Muhammad, Nabi utama Islam, dalam seni Islam sejarah.[7][8]

Ciri dan periodisasi

Seni rupa Islam tidak berdiri sendiri seperti Seni rupa Buddha ataupun Barat. Ia merupakan gabungan dari kesenian daerah-daerah taklukan akibat adanya ekspansi oleh kerajaan bercorak Islam di sekitar Timur Tengah, Afrika Utara, Asia Kecil, dan Eropa dan penakulukan oleh bangsa Mongol. Daerah ini didefinisikan sebagai Persia, Mesir, Moor, Spanyol, Bizantium, India, Mongolia, dan Seljuk. Selain itu ditemukan pula pengaruh akibat hubungan dagang, seperti Tiongkok. Ini disebabkan miskinnya seni rupa asli Arab pada saat itu walaupun dalam bidang sastra dan musik sebenarnya memperlihatkan hal yang menakjubkan. Keberagaman pengaruh inilah yang membuat seni rupa Islam sangat kaya.

Hal ini terutama bisa dilihat dari arsitektur Islam yang memperlihatkan gabungan corak dari berbagai daerah.

 

 

  1. C.     SENI RUPA MODERN INDONESIA

 

SENI RUPA MODERN

Pengertian

Seni rupa modern adalah seni rupa yang tidak terbatas pada kebudayaan suatu adat atau daerah, namun tetap berdasarkan sebuah filosofi dan aliran-aliran seni rupa.

 

Ciri-ciri

Konsep penciptaannya tetap berbasis pada sebuah filosofi , tetapi jangkauan penjabaran visualisasinya tidak terbatas.

Tidak terikat pada pakem-pakem tertentu.

Contoh : Lukisan-lukisan karya Raden Saleh Syarif Bustaman, Basuki Abdullah, Affandi, S.Soedjojono dan pelukis era modern lainnya.

Seniman : Raden Saleh Syarif Bustaman, Abdulah Sr, Pirngadi, Basuki Abdullah, Wakidi, Wahid Somantri, Agus Jaya Suminta, S. Soedjojono, Ramli, Abdul Salam, Otto Jaya S, Tutur, dan Emira Sunarsa.

Sejarah seni rupa Indonesia modern belum lama, kurang-lebih baru 80 tahun berjalan. Walaupun sejarah seni rupa Indonesia masih pendek, namun hal itu penting untuk menilik kembali apa-apa yang telah terjadi mengingat sejarah meruapakan latar belakang yang membentuk kekinian. Sejarah berperan sebagai sarana merefleksikan seni rupa kini akibat perkembangan dunia global saat ini, tergerusnya nilai lokal yang tidak relevan dianggap satu-satunya sumber jati diri, dan maraknya konsumerisme yang justru memberi banyak pilihan sekalipun sebenarnya seragam.

Dalam situasi demikian, penting diperhatikan kemunculan buku Seni Rupa Indonesia dalam Kritik dan Esei. Buku ini hendak mengingatkan serangkaian sejarah yang menjadi latar belakang seni rupa Indonesia modern. Awalnya, sejarah seni rupa modern Indonesia muncul bersamaan spirit nasionalisme yang berkumandang pada 1930-an, atas prakarsa Sudjojono. Kemudian muncul seni dan politik cukup keras pada paruh pertama 1960-an. Disusul Gerakan Seni Rupa Baru pada tahun 1970-an. Dilanjutkan masa booming seni lukis pada 1980-an. Setelah itu tidak ada gerak yang signifikan dalam perjalanan seni rupa indonesia, kecuali kegelisahan pada infrastruktur seni rupa yang kalah oleh insfrastruktur pasar seni rupa. Alhasil, perayaan pada seni rupa media baru tidak lain kepanjangan apa yang sudah dirintis oleh Gerakan Seni Rupa Baru pada 1970-an.

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

Belum ada komentar. Tulislah komentar pertama!

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar